Buat para pembaca perempuan di SobatASK: berapa orang yang pernah disunat?
Mungkin, saat kamu masih bayi, orang tuamu pernah menyunatmu. Entah karena itu tradisi atau karena kepercayaan tertentu. Tergantung cara praktiknya, sunat perempuan disebut oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan perempuan?
Memangnya apa yang dimaksud dengan sunat perempuan dan bagian mana yang enggak boleh? berikut Fakta tentang Sunat Perempuan
Ada Empat Jenis Sunat Perempuan
Berbagai suku bangsa di dunia melakukan sunat dengan caranya masing-masing. Namun, sebenarnya kebanyakan praktik ini terbilang berbahaya, lho. Ada empat jenis sunat perempuan yang biasa terjadi. Pertama, clitoridectomy, yakni dipotongnya sebagian atau seluruh bagian dari klitoris (salah satu bagian dari alat kelamin perempuan) dan kulit di sekitar klitoris.
Jenis kedua, excision, adalah dipotongnya seluruh atau sebagian dari klitoris dan labia minora, sekaligus sebagian dari labia majora. Artinya, bagian besar dari vagina sudah disunat.
Jenis ketiga, yang berbahaya banget, adalah infibulation. Bagian terbuka dari vagina ditutup sebagian dengan memotong dan menempatkan ulang labia minora atau labia majora. Intinya, sebagian dari alat kelamin perempuan dijahit dan ditutup.
Sedangkan tipe keempat mencakup metode sunat perempuan lain yang menusuk, memotong, membakar, atau menjahit vagina.
Enggak Ada Manfaat Kesehatannya
Tidak ada manfaat kesehatan dari sunat perempuan. Seperti dikutip dari situs resmi WHO, sunat perempuan “mengganggu fungsi alami dari tubuh perempuan”, terutama jika sunat tipe 3 dan 4 yang dilakukan.
Dalam jangka pendek, korban sunat perempuan bisa mengalami rasa sakit yang luar biasa, pendarahan, demam, infeksi seperti tetanus, permasalahan dalam buang air, syok, bahkan kematian.
Sementara dalam jangka panjang, korban bisa mengalami penyakit kelamin seperti bacterial vaginosis, masalah dengan menstruasi, masalah seksual seperti rasa sakit saat berhubungan seks, bertambah risiko komplikasi saat melahirkan anak, hingga masalah psikologis seperti depresi.
Berlanjut Karena Budaya
Kalau sudah jelas berbahaya, kenapa sunat perempuan masih berlanjut? Sederhana, karena budaya.
Seringkali, sunat perempuan dianggap perlu untuk “mengurangi hasrat seksual” seorang perempuan, sehingga ia tak terdorong untuk berzina. Perempuan yang belum disunat juga kadang dianggap belum dewasa dan tidak pantas dinikahi. Di sini juga terlihat faktor relasi gender yang membedakan antara sunat perempuan dan sunat laki-laki. Sunat perempuan ada yang bertujuan untuk menekan hasrat seksual, ada faktor penekanan dan kontrol terhadap tubuh perempuan.
Masih Banyak yang Berisiko
Walau kampanye untuk mengakhiri sunat perempuan terus berlangsung (termasuk di Indonesia!), masih banyak perempuan yang terancam menjadi korban sunat perempuan. Tercatat, lebih dari 200 juta anak dan perempuan yang hidup hari ini pernah menjadi korban sunat perempuan. Setiap tahunnya, lebih dari 3 juta orang perempuan terancam menjadi korban sunat perempuan.