Penelitian ini mengkaji pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) berbasis agama di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, riset ini menggali pandangan enam agama resmi di Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) terhadap PKRS dan kekerasan seksual. Hasilnya menunjukkan bahwa walaupun semua agama memiliki ajaran terkait perlindungan diri dan seksualitas, tidak semua institusi agama secara aktif memberikan PKRS kepada komunitasnya. Penelitian ini menyoroti pentingnya peran keluarga dalam pendidikan awal PKRS serta perlunya pendekatan berbasis budaya lokal untuk efektivitas program. Laporan ini juga merekomendasikan penguatan peran komunitas pemuda agama dalam penyebaran PKRS yang lebih inklusif dan kontekstual.




