Perjalanan Ibu Komariah Mengubah Wajah Pendidikan Kespro di Indramayu

Bagikan Artikel ini

Di tengah semilir angin pesisir utara Jawa, di Kabupaten Indramayu yang khas dengan aroma laut dan kesederhanaannya, sebuah sekolah negeri berdiri tegak membawa semangat baru, SMP Negeri 2 Indramayu. Di balik perubahan besar yang tengah bergulir di sekolah ini, berdiri seorang pemimpin pendidikan yang tak kenal lelah: Ibu Komariah, kepala sekolah yang kini menjadi inspirasi di kalangan pendidik dan pemangku kebijakan daerah.

Kokom1 - Gemilang Sehat

Perjalanan Ibu Komariah menuju perubahan dimulai tidak dengan langkah besar, melainkan dari rasa penasaran. Tahun 2023, saat ia baru dimutasi dari SMP Satu Atap 2 Trisi ke SMPN 3 Selip (sebelum akhirnya ke SMPN 2 Indramayu), ia mendengar istilah “PKRS”. “CSE” dan “SETARA” untuk pertama kalinya. Awalnya terdengar asing, bahkan membuatnya ragu. Namun rasa ingin tahunya mendorongnya untuk membuka modul yang ia temukan di kantor.

“Saya baca-baca modul SETARA, dan saya tertegun. Ya Allah, ini bagus sekali. Kenapa saya baru tahu sekarang? Andai dari dulu, pasti sudah saya terapkan ke anak-anak saya sendiri,” tutur Ibu Komariah, mengenang awal perjumpaannya dengan PKRS.

Didukung oleh Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) melalui program Right Here Right Now 2 (RHRN2), Ibu Komariah mulai menggali lebih dalam. Ia mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan fasilitator, dan mulai menyusun strategi untuk mengintegrasikan materi PKRS ke dalam kurikulum sekolah. Tantangan pertama muncul ketika ia menyadari bahwa modul Setara belum disusun sebagai bagian dari projek P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), yang menjadi bagian penting dalam Kurikulum Merdeka.

Namun bukan Ibu Komariah namanya jika menyerah pada keterbatasan. Ia menyusun ulang isi modul, menambahkan elemen kontekstualisasi dan aksi nyata agar bisa selaras dengan tahap-tahap P5. Lebih dari itu, ia berani membuat keputusan progresif: menjadikan PKRS sebagai salah satu dari tiga proyek utama P5, menggantikan rencana semula membuat taman sekolah.

Kokom2 - Gemilang Sehat

Meski sumber daya terbatas, Ibu Komariah tidak kehabisan akal. Di tengah kesulitan mencetak buku karena sebagian guru senior kesulitan membaca e-book, ia mengalokasikan dana BOS untuk fotokopi modul agar semua guru punya bahan ajar fisik. Ia pun melatih para guru secara mandiri melalui IHT (In House Training), bahkan menjadi fasilitator sendiri karena minimnya tenaga terlatih di sekolah barunya.

Tak berhenti sampai pelatihan guru, Ibu Komariah mengembangkan pembelajaran PKRS menjadi pengalaman nyata yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Ia mendorong siswa untuk membuat penelitian kecil berdasarkan topik modul, menyederhanakan instrumen seperti angket dan wawancara, hingga membuat template karya ilmiah agar siswa bisa mengisi sendiri hasil temuan mereka.

“Saya tahu anak-anak kami belum terbiasa menulis karya ilmiah, bahkan membuat paragraf pun masih sulit. Tapi saya percaya, kalau difasilitasi dengan benar, mereka bisa,” ungkapnya penuh keyakinan.

Hasilnya luar biasa. Siswa mempresentasikan hasil penelitian mereka, membuat poster digital, komik edukatif, lukisan, dan kampanye sosial menggunakan berbagai media seperti kaos, tote bag, dan mug. Bahkan, beberapa kelompok siswa berani tampil langsung di SD Pabean Udik 3 untuk menyampaikan edukasi tentang menstruasi dan mimpi basah kepada adik-adik kelas mereka, sebuah terobosan yang sangat langka dan membanggakan.

Kokom5 - Gemilang Sehat

Perubahan tak hanya terasa pada siswa, tetapi juga pada para guru. Mereka mulai melihat metode pengajaran PKRS yang interaktif dan berbasis proyek sebagai pendekatan yang bisa diadopsi ke mata pelajaran lain. Guru-guru yang awalnya kikuk menghadapi materi “sensitif” seperti pubertas dan emosi remaja, kini lebih percaya diri menyampaikannya dengan pendekatan yang menyenangkan.

“Ternyata kalau diajarkan dengan permainan dan diskusi, topik-topik yang tadinya ‘tabu’ jadi terasa ringan. Anak-anak pun lebih terbuka,” kata Ibu Komariah.

Perubahan ini tak hanya berhenti di sekolah. Inisiatif dan dedikasi Ibu Komariah menarik perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu. Ia diundang untuk berbagi praktik baik ke berbagai sekolah yang belum pernah mengimplementasikan PKRS, seperti SMPN 2 Lelea, SMPN 3 Trisi, dan SMPN 3 Sindang. Dari hanya tiga sekolah imbas, kini program PKRS telah menjangkau lebih dari 90 sekolah di kabupaten tersebut.

“Banyak sekolah yang awalnya bingung, bagaimana memasukkan PKRS ke dalam P5. Saya senang bisa membantu, karena saya tahu, materi ini terlalu penting untuk diabaikan,” katanya.

Keberhasilan ini juga mengantar Ibu Komariah menjadi nominasi dalam Lomba GTK Inspiratif tingkat Jawa Barat. Meskipun belum membawa pulang juara, pencapaiannya telah melampaui sekadar trofi, ia membawa perubahan nyata bagi ratusan siswa dan guru di daerahnya.

Dari awal yang penuh kebingungan, hingga kini menjadi pelopor perubahan, Ibu Komariah telah membuktikan bahwa komitmen, keberanian, dan kolaborasi dapat mengatasi segala keterbatasan. Dengan dukungan YGSI melalui RHRN2, ia telah membuka jalan bagi pendidikan kesehatan reproduksi yang lebih inklusif dan bermakna.

Kokom4 - Gemilang Sehat

Dan bagi para orang tua? Respon mereka sangat positif. Tidak ada satu pun protes atau penolakan terhadap materi PKRS. Bahkan banyak orang tua bersyukur karena anak-anak mereka akhirnya bisa membicarakan topik-topik penting yang sebelumnya dianggap tabu di rumah.

“Kalau bukan dari sekolah, siapa lagi yang akan menjelaskan dengan baik dan benar? Anak-anak kita berhak tahu, dan kita sebagai pendidik punya tanggung jawab memberitahu,” tutup Ibu Komariah.  (*)

 

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.

Keranjang
  • Tidak ada produk di keranjang.