Oleh: Jessycha Royanti Tampubolon

Kekerasan dalam pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk luka akibat adanya kontak fisik. Luka bisa berasal dari bentakan, hinaan, mempermalukan seseorang di depan teman-temannya dan intimidasi. Dalam lingkungan pendidikan, persoalan ini menjadi semakin kompleks karena sekolah bukan hanya tempat belajar. Lembaga pendidikan sering dianggap sebagai “rumah kedua” bagi anak. Karena itu, lingkungan tersebut seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Namun kekerasan di lingkungan pendidikan masih sering dilaporkan dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk siswa senior, guru, maupun pembina.

Mengapa kekerasan masih bisa muncul di tempat yang seharusnya mendidik?

Kita sering mendengar istilah seperti “pembentukan karakter”, “pendisiplinan”, atau “pembentukan mental”. Istilah-istilah tersebut sebenarnya tidak salah. Pendidikan memang membutuhkan aturan, konsekuensi, tanggung jawab, dan disiplin. Anak perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Masalahnya muncul ketika kekerasan mulai dianggap sebagai bagian yang wajar dari proses tersebut.

Seorang siswa yang melakukan kesalahan mungkin perlu mendapatkan konsekuensi. Tetapi apakah konsekuensi itu harus disertai penghinaan? Apakah seorang junior harus dipermalukan agar belajar untuk menghormati senior? Apakah seseorang harus dibuat takut terlebih dahulu agar dianggap memiliki mental yang kuat?

Batas antara disiplin dan kekerasan menjadi kabur ketika rasa sakit, ketakutan, dan penghinaan mulai dianggap sebagai metode pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya membantu seseorang memahami kesalahan dan memperbaikinya, bukan membuat seseorang merasa bahwa dirinya pantas direndahkan.

Pada titik tertentu, muncul sebuah pola yang berulang. Seorang junior mengalami bentakan dari senior. Beberapa tahun kemudian, junior tersebut menjadi senior. Ia mengingat perlakuan yang pernah diterimanya. Lalu muncul kalimat: “Dulu saya juga begitu.” Ia kemudian melakukan hal yang sama kepada junior berikutnya. Siklus itu terus berputar. Inilah yang dapat kita lihat sebagai semacam “warisan kekerasan”. Yang diwariskan bukan hanya aturan, tetapi juga cara memperlakukan orang lain. Jika generasi sebelumnya belajar bahwa senior memiliki hak untuk membentak junior, generasi berikutnya akan menganggap bahwa posisi senior memang memberikan hak tersebut.

Mengapa rasa tidak dihargai dapat berubah menjadi kekerasan terhadap orang yang berada di posisi lebih rendah?

Penting untuk membedakan antara senioritas dan kekerasan. Menjadi senior sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk membimbing. Senior dapat membantu junior beradaptasi, memberikan contoh, mengajarkan aturan, dan menjadi tempat bertanya. Namun, hubungan tersebut berubah ketika status senior digunakan untuk mendominasi. Senioritas menjadi bermasalah ketika seseorang merasa bahwa karena dirinya lebih tua atau lebih tinggi tingkatannya, maka ia memiliki hak untuk menentukan bagaimana junior harus diperlakukan, termasuk memberikan hukuman di luar kewenangannya.

Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata tentang senior dan junior, tetapi tentang relasi kuasa. Ketika satu pihak memiliki posisi yang lebih kuat dan pihak lain merasa tidak memiliki ruang untuk menolak, mempertanyakan, atau melaporkan perlakuan yang diterimanya, ketimpangan tersebut dapat membuka ruang bagi kekerasan.

Lalu, di mana isu gendernya?

Kekerasan senior terhadap junior tidak otomatis menjadi KBG hanya karena pelaku dan korbannya memiliki jenis kelamin tertentu. Namun, gender dapat menjadi salah satu lensa untuk melihat mengapa bentuk kekerasan tertentu dianggap normal. Misalnya, ketika anak laki-laki diajarkan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh takut, atau harus mampu menerima perlakuan keras agar dianggap “laki-laki”. Pada perempuan, norma gender juga dapat muncul dalam bentuk tuntutan untuk selalu bersikap lembut, patuh, menjaga penampilan, dan tidak banyak membantah. Perempuan yang berani menyampaikan keberatan atau menolak perlakuan tertentu bahkan dapat dicap tidak sopan, terlalu keras, atau tidak tahu menempatkan diri. Dalam situasi tertentu, tubuh, penampilan, cara berpakaian, atau kehidupan pribadi perempuan juga dapat dijadikan bahan untuk mempermalukan atau mengontrol mereka. Dalam situasi tertentu, norma seperti itu dapat membuat kekerasan lebih mudah dibungkus sebagai pembentukan mental. Apakah seseorang direndahkan karena dianggap tidak cukup maskulin atau feminin? Apakah tubuh dan seksualitas seseorang digunakan untuk mempermalukannya? Apakah relasi kuasa membuat korban merasa tidak aman untuk menolak atau melapor?

Pendidikan yang disiplin tidak harus menyakiti

Mungkin kita perlu berhenti mempertentangkan dua hal yang sebenarnya tidak harus bertentangan yaitu disiplin dan keamanan. Pendidikan tanpa kekerasan bukan berarti pendidikan tanpa aturan. Siswa tetap dapat diberikan konsekuensi ketika melanggar aturan. Senior tetap dapat diberikan tanggung jawab untuk membimbing junior. Sekolah tetap dapat memiliki standar kedisiplinan yang tinggi. Tetapi semua itu harus memiliki batas. Batas antara mendisiplinkan dan merendahkan. Batas antara membimbing dan mendominasi. 

Mungkin orang-orang yang dulu membentak kita juga pernah dibentak. Mungkin orang-orang yang dulu menghukum kita juga pernah dihukum. Mungkin mereka benar-benar percaya bahwa cara tersebut membuat mereka menjadi kuat. Tetapi pengalaman bahwa sesuatu pernah dilakukan kepada kita tidak otomatis membuat sesuatu tersebut layak dilakukan kepada orang lain. Kita boleh mewariskan pengalaman. Tetapi kita tidak harus mewariskan kekerasannya. Jika pendidikan bertujuan membentuk manusia yang mampu menghargai orang lain, bukankah proses pendidikannya juga harus menunjukkan bagaimana cara menghargai manusia?

Jika tujuan disiplin adalah mengajarkan tanggung jawab, mengapa rasa takut harus menjadi alat utamanya? Dan jika tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang kuat, apakah kita memang harus membuat mereka terluka terlebih dahulu? Kita harus berani melihat kembali tradisi yang selama ini diterima begitu saja. Karena sesuatu yang sudah berlangsung lama belum tentu benar. Dan mungkin, generasi kita bisa menjadi generasi yang memilih untuk tidak meneruskannya.

***

Jessycha Royanti Tampubolon adalah seorang pekerja profesional dibidang IT/Digital yang menaruh minat pada penulisan opini isu sosial, kemanusiaan, dan edukasi publik.