Oleh: Devyra Irawan
Setiap malam, saya menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Bukan karena ingin tidur lebih tenang, melainkan karena dari celah sekecil apapun, bau sangit itu tetap masuk. Aroma terik dari asap pun menempel mulai dari rambut, baju, dan kamar, hingga masuk ke rongga hidung bersama helaan napas yang membuat dada saya terasa berat. Sepanjang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melanda wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), tubuh saya seperti tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk pulih. Tiga kali saya harus bolak-balik berobat karena tubuh mulai kewalahan menghadapi polusi udara yang setiap hari saya hirup.
Siang hari pun kini bukan siang yang selama ini saya kenali. Menjelang sore, langit bisa berubah merah dan pekat. Jalan yang biasanya mudah dilihat dari kejauhan mendadak seperti ditutup tirai putih keabu-abuan. Karenanya, jarak pandang pun semakin memendek dan orang-orang kini mulai menyalakan lampu kendaraan lebih awal. Di jalan, kini kita tidak hanya sibuk memikirkan akan sampai rumah jam berapa, tetapi juga dihantui apakah perjalanan pulang nanti akan baik-baik saja? Ketika saya berada di tengah situasi ini, dalam hati saya bertanya, “Sampai kapan tubuh saya harus terus berkompromi dengan udara yang bahkan tidak bisa saya pilih untuk saya hirup?”
Pertanyaan itu terasa semakin mengganggu ketika saya melihat angka-angka kejadian Karhutla di Sumsel. Pada 27 September 2026, tercatat 79 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 231 hektar dalam sehari. Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi salah satu wilayah dengan kejadian Karhutla terbanyak. Secara akumulatif, titik panas di Sumsel juga menembus 60.800 titik, dengan bulan September menjadi yang tertinggi mencapai 38.800 titik. Pada hari yang sama, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bahkan mencapai angka 345 atau masuk dalam kategori “Berbahaya”. Angka-angka itu memang sebatas nominal ketika dibaca di layar gawai. Tetapi bagi saya, angka 345 tersebut adalah dada yang sesak, mata yang merah dan perih, bau asap yang membuat orang terburu-buru mencari masker, dan perjalanan pulang yang terasa lebih menegangkan karena kaburnya jarak pandang.
Lebih celakanya, asap Karhutla bukan satu-satunya bencana yang dialami seorang perempuan ketika musim kering tiba. Ketika kemarau semakin panjang, saya juga mulai merasakan krisis yang lain dari sesuatu yang kelihatannya sangat sepele yaitu keran air. Di area kampus yang saya kunjungi hampir setiap hari, sangat sering air tiba-tiba tidak mengalir. Tidak ada suara air dari keran, sehingga tidak ada pilihan untuk sekadar membuka pancuran lalu mandi seperti biasanya. Cerita berikutnya mungkin tak lagi mengagetkan, saat teman-teman saya mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan agar sekadar cukup untuk membeli kebutuhan harian air bersih. Pengeluaran yang sebelumnya tidak pernah masuk daftar kebutuhan mendadak menjadi sesuatu yang harus dipikirkan.
Saya kemudian melihat persoalan yang sama dari tempat lain, yakni yang dialami oleh tukang sayur langganan di kampung. Ibu-ibu yang datang berbelanja bukan hanya menghitung harga cabai, minyak, atau telur. Mereka juga dipaksa terbiasa untuk menghitung berapa banyak air yang tersedia hari itu untuk keperluan domestik. Air untuk memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan anak-anak harus dibagi dengan cermat bersama dengan pengeluaran untuk bahan pangan. Air yang tersisa juga harus secara cermat disimpan untuk berjaga-jaga kalau besok keran masih saja kering. Sebab itu, saya kini selalu dibayangi bahwa betapa melelahkannya hidup sebagai perempuan ketika kebutuhan paling dasar pun harus dibagi-bagi layaknya uang belanja.

Di situ saya semakin sadar bahwa krisis air tidak pernah benar-benar berhenti pada keran yang kering. Ada berlapis-lapis beban yang muncul setelahnya, dan beban tersebut hampir selalu menghantam keras kehidupan perempuan. Ketika air habis, perempuan yang harus mencari cara untuk mendapatkannya. Ketika air harus dibeli, perempuan yang harus ikut menghitung bagaimana uang belanja dibagi. Ketika persediaan air harus dihemat, perempuan jugalah yang mengatur bagian mana dalam urusan rumah tangga yang terpaksa harus dikurangi. Ketika anak belum mandi, cucian menumpuk, dan makanan tetap harus dimasak sementara air tinggal beberapa ember, lagi-lagi perempuanlah yang harus memikirkan semuanya. Ketidakadilan tersebut seakan terjadi begitu saja melalui label “pekerjaan domestik”, seolah-olah pekerjaan itu terjadi sebagai kenormalan dan seakan dikerjakan tanpa perlu menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Sungguh tidak demikian bukan?
Di tengah semua ketimpangan tersebut, masih ada satu persoalan yang bahkan hampir tak pernah dibicarakan, yaitu bagaimana krisis air tersebut mempengaruhi kesehatan seksual dan reproduksi perempuan. Persoalan ini jelas lebih pelik, pasalnya membicarakan tubuh perempuan saja masih sering dianggap tabu dan tak jarang membuat orang menjadi salah tingkah. Penyebutan nama organ reproduksi saja masih dianggap terlalu vulgar. Soal menstruasi apalagi, yang masih kerap dibicarakan dengan setengah berbisik, juga tak lupa beberapa keluhan terkait organ intim perempuan yang sedihnya lebih sering ditahan karena membicarakannya masih dianggap memalukan. Keputihan yang muncul menjelang menstruasi misalnya, masih kerap disebut dengan berbagai istilah kiasan karena nama medisnya dianggap tidak pantas diucapkan.
Lalu datanglah krisis air. Perempuan tetap menstruasi, tubuh tetap membutuhkan perawatan, tetapi air bersih tidak selalu tersedia. Saya merasakan betapa cemas dan lelahnya berada dalam situasi sulit ini. Kita harus membersihkan tubuh, tetapi air begitu terbatas. Kita harus rutin mengganti pembalut, tetapi setelahnya tetap membutuhkan air untuk menjaga kebersihan. Kita selalu ingin merasa bersih dan nyaman kala menstruasi, tetapi hal tersebut hampir selalu sebatas angan karena penggunaan air harus dipikirkan ulang. Menggunakan air seadanya membuat kita khawatir dengan kebersihan, sementara menghemat terlalu banyak air juga membuat tubuh perempuan yang mengalami menstruasi menanggung ketidaknyamanannya sendirian. Dalam kondisi seperti ini, menstruasi yang biasanya hanya menjadi bagian dari rutinitas bulanan berubah menjadi sesuatu yang membuat kita terus berkalkulasi dan mengkhawatirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu sama sekali kita khawatirkan.
Di titik itu, kemarahan saya muncul bukan sekadar karena merasa tidak nyaman. Ada rasa kesal yang terakumulasi karena persoalan yang begitu mendasar saja ternyata bisa berubah menjadi sebuah kemewahan. Saya begitu marah karena perempuan diminta menjaga kebersihan tubuhnya, tetapi akses terhadap air bersih tidak selalu dijamin. Kemarahan saya pun memuncak karena ketika krisis datang, perempuan seolah-olah harus menyelesaikan semuanya sendiri, mulai dari menghemat air, menjaga kesehatan, menjaga rumah, sampai menjaga keluarga, sambil tetap menerima kerentanan tubuhnya seperti tidak terjadi apa-apa. Rasanya seperti ingin bertanya keras-keras, “Mengapa selalu tubuh perempuan yang diminta menyesuaikan diri ketika sistem yang seharusnya melindungi justru tidak pernah siap?”
Di satu sisi, saya berada dalam kepungan asap Karhutla yang kian menggerogoti pernapasan, sementara krisis air mengganggu cara saya merawat tubuh di sisi yang lain. Dari kedua situasi sulit tersebut, saya tertegun pada satu hal yang sama, yaitu perempuan yang sekali lagi menjadi pihak yang dipaksa harus beradaptasi paling banyak terhadap keadaan yang tidak pernah mereka sendiri ciptakan. Karena itu bagi saya, krisis iklim bukan hanya soal hutan yang terbakar (atau dibakar?), suhu yang meningkat, atau grafik perubahan cuaca. Krisis iklim juga bisa menjelma menjadi keran yang tidak lagi mengeluarkan air, ibu yang harus menghitung berapa ember air yang tersisa untuk kebutuhan keluarga, atau perempuan yang tak hentinya memutar otak sebelum menggunakan air untuk sekadar membersihkan tubuhnya sendiri.
Dari pengalaman-pengalaman itulah saya mulai memahami bahwa isu lingkungan dan kesehatan reproduksi tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya senantiasa bertemu dalam pengalaman keseharian dari tubuh seorang perempuan. Di rumah, di kamar mandi, di dapur, di sumur, dan di setiap rupa rutinitas yang selama ini sering dianggap sepele. Krisis yang terlihat besar di tingkat kebijakan ternyata bisa terasa sangat kecil sekaligus sangat personal ketika seorang perempuan yang sedang menstruasi berdiri di depan keran dan tidak ada setetes pun air yang keluar.
Akumulasi keresahan inilah yang mendorong saya bersama teman-teman kemudian bergerak melalui komunitas “Muda #ASIK”. Kami membangun Muda #ASIK sebagai ruang bagi orang muda untuk belajar, berdiskusi, mengadvokasi, dan bergerak bersama dalam isu air, sanitasi, dan kebersihan (ASIK). Kami membicarakan, mengamplifikasi, dan mengadvokasi lima hal yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, antara lain yaitu manajemen kebersihan menstruasi, #ASIK dalam situasi darurat, sanitasi aman, cuci tangan pakai sabun, serta air minum yang bersih dan aman.
Di Muda #ASIK, kami tidak hanya berhenti sebatas bertukar gagasan. Lebih dari itu, kami juga membuat beragam materi advokasi melalui sosial media Instagram, mengadakan Seri ASIK Ngobrol setiap minggu, dan membawa isu ini ke ruang-ruang pertemuan bersama orang muda maupun para pemangku kepentingan. Bagi seorang perempuan seperti saya, upaya-upaya tersebut menjadi cara untuk mengubah rasa tidak berdaya menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan bersama-sama. Saya mungkin tidak bisa sendirian menghentikan Karhutla atau memastikan seluruh keran di Sumsel kembali mengalir. Namun setidak-tidaknya, saya bisa ikut andil dalam memastikan bahwa pengalaman-pengalaman perempuan seperti saya tidak lantas hilang begitu saja dari percakapan tentang krisis lingkungan.
Sebab saya tau rasanya berada di tengah asap dan hanya bisa bertanya kapan udara akan kembali normal sebagaimana sedia kala. Sebab saya juga tau rasanya mendapati keran tidak mengeluarkan air barang setetes dan mulai menghitung kebutuhan tubuh sendiri. Karena kondisi tidak berdaya tersebut sungguh mengusik saya, sekarang saya tidak ingin hanya menjadi orang yang terus-menerus terdampak. Saya juga ingin ikut menentukan bagaimana ketidakadilan reproduksi ini dibicarakan. Saya tentu ingin setiap orang muda bisa menyebut menstruasi tanpa menundukkan kepala, menyebut organ reproduksi tanpa merasa harus meminta maaf, dan memahami bahwa air bersih bukanlah kemewahan yang baru boleh kita perjuangkan hanya ketika bencana sudah terjadi.
***
Devyra Irawan adalah seorang youth advocate asal Palembang yang berfokus pada isu HKSR serta pemberdayaan anak muda. Ia juga merupakan penggerak komunitas Muda #ASIK.
