Buku ini merekam jejak perjalanan perubahan yang digerakkan oleh orang muda di tiga wilayah implementasi: Langkat (Sumatera Utara), Indramayu (Jawa Barat), dan Jombang (Jawa Timur). Setiap praktik baik yang terdokumentasi menegaskan bahwa ketika orang muda diberi ruang, informasi, dan dukungan, mereka mampu menjadi aktor utama perubahan. Lebih dari sekadar penerima manfaat, orang muda memposisikan dirinya sebagai pendidik sebaya, fasilitator, hingga advokat yang mendorong lahirnya kebijakan.
Dari praktik di sekolah, kita belajar bagaimana PKRS mampu membuka ruang dialog sehat antar siswa dan guru, seperti di SMPN 1 Sindang maupun perluasan implementasi PKRS di seluruh SMP Indramayu. Dari komunitas remaja, lahir inovasi luar biasa seperti CIKAL di Langkat yang berhasil memperjuangkan lahirnya Peraturan Daerah tentang pendidikan kespro. Sementara itu, di sekolah berkebutuhan khusus maupun di komunitas gender minoritas, program ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi dan seksualitas yang setara dan inklusif dapat membongkar sekat-sekat diskriminasi serta memberi keberanian bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Keberhasilan ini tentu tidak datang sendiri. Pemerintah daerah telah menunjukkan komitmennya melalui kebijakan, dukungan anggaran, dan fasilitasi ruang yang ramah remaja. Para pemuka agama dan tokoh adat berperan penting dalam membangun pemahaman yang kontekstual dan mengikis tabu yang selama ini menghambat edukasi kesehatan reproduksi. Masyarakat sipil, organisasi lokal, serta keluarga pun menjadi pilar penguat yang memastikan keberlanjutan. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi kunci perubahan nyata.




