Di sebuah desa kecil bernama Sindang, yang terletak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, seorang perempuan muda bernama Agni menorehkan jejak perubahan. Indramayu dikenal sebagai wilayah dengan tantangan sosial yang kompleks, terutama bagi remaja perempuan: akses informasi terbatas, layanan kesehatan yang kurang ramah anak muda, dan kuatnya norma sosial yang membatasi peran aktif perempuan.
Namun, dari realitas itulah, Agni muncul sebagai sosok perubahan, bertransformasi dari penerima manfaat menjadi penggerak program yang kini menginspirasi banyak orang muda lainnya.

“Aku dibesarkan di Indramayu. Awalnya aku kira, hidup ya segini aja. Tapi setelah ikut kegiatan ini, aku sadar bahwa dunia itu luas.”
Langkah Awal Bersama Selendang Puan dan SAPA Institute
Perjalanan Agni dimulai ketika ia bergabung dengan Selendang Puan Indramayu, sebuah komunitas perempuan muda yang bergerak dalam isu-isu kesehatan dan hak-hak reproduksi. Komunitas ini merupakan bagian dari jaringan yang bekerja di bawah koordinasi SAPA Institute, dan mendapat dukungan dari YGSI (Yayasan Gemilang Sehat Indonesia) melalui program RHRN2 (Right Here Right Now 2).
Dari sana, Agni mengikuti pelatihan, pendampingan, hingga mentoring yang membuka wawasannya. Ia belajar menggunakan modul SAPA, mengembangkan strategi komunikasi, serta memahami konteks sosial-budaya masyarakat Indramayu.
“Strateginya melebur ke masyarakat. Kita pelajari dulu karakter mereka, bahasanya, kebiasaan. Kita pengen diterima dulu, karena kalau sudah dipercaya, baru kita bisa ajak bicara soal perubahan.”
Melebur dengan Masyarakat, Membangun Kepercayaan
Agni memilih pendekatan yang tidak menggurui. Ia mulai hadir dalam ruang-ruang komunitas, membangun hubungan dengan remaja, orang tua, dan tokoh masyarakat. Perlahan tapi pasti, ia mengubah persepsi masyarakat soal isu kesehatan seksual dan reproduksi, dari sesuatu yang tabu menjadi bahan diskusi terbuka.
“Dulu puskesmas itu cuma buat orang sakit atau ibu hamil. Sekarang, anak muda datang buat diskusi. Bahkan dokternya juga terbuka, mau ngobrol, gak sekaku dulu.”

Perubahan Nyata di Wilayah Indramayu
Bersama komunitas Selendang Puan Indramayu dan tim SAPA Institute, Agni menjadi bagian dari gerakan akar rumput yang memicu perubahan sosial yang signifikan di wilayahnya. Salah satu dampak paling terasa adalah semakin terbukanya akses remaja terhadap layanan kesehatan, terutama dalam hal konseling dan informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi. Jika dulu topik-topik seperti ini dianggap tabu dan sulit dibicarakan, kini remaja mulai merasa aman dan nyaman untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari bantuan.
Perubahan ini juga tampak di lingkungan puskesmas. Sebelumnya, puskesmas hanya dikenal sebagai tempat untuk orang sakit atau ibu hamil. Namun, lewat pendekatan komunitas yang dilakukan oleh Agni dan tim, puskesmas kini mulai membuka ruang dialog yang inklusif bagi orang muda. Para tenaga kesehatan menjadi lebih terbuka, komunikatif, dan aktif berkolaborasi dalam menyampaikan edukasi yang relevan bagi remaja.

Di sisi lain, perempuan muda yang dulunya enggan bersuara kini mulai bangkit dan menyampaikan gagasan serta keresahan mereka. Mereka tidak lagi sekadar menjadi objek dalam pembangunan desa, melainkan aktor aktif yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Sosok Agni menjadi inspirasi nyata bagi banyak dari mereka—bukti bahwa perempuan muda bisa menjadi pemimpin, penggerak, dan agen perubahan di komunitasnya sendiri.
“Kadang berat juga, karena dijadiin role model. Tapi aku nikmati. Karena aku tahu, aku mewakili banyak suara yang belum bisa bersuara.”
Ia juga aktif menyuarakan perubahan kebijakan di tingkat desa, misalnya mendorong puskesmas tetap buka di akhir pekan, karena banyak remaja hanya punya waktu luang saat itu. Ia juga mendampingi proses advokasi agar desa-desa di Indramayu memiliki regulasi yang lebih ramah terhadap remaja dan anak perempuan.
Dukungan Komprehensif dari YGSI melalui Program RHRN2
Transformasi ini dimungkinkan berkat dukungan dari YGSI melalui program RHRN2. Program ini tidak hanya menyediakan materi dan modul, tetapi juga membangun kapasitas kritis, memperkuat jejaring, dan memberi ruang kepemimpinan bagi pemuda.
“Dukungan paling penting adalah moral. Ketika orang percaya padaku, aku juga mulai percaya pada diriku sendiri.”
Berkat program ini pula, Agni berkesempatan ikut forum internasional di Surabaya, bertukar gagasan dengan aktivis dari Malaysia, India, Nepal, dan Bangladesh. Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa gerakan perubahan memang harus dimulai dari akar rumput.
“Waktu diskusi sama teman-teman luar negeri, aku sadar bahwa tantangan itu mirip di mana-mana. Tapi semangatnya juga sama: kita pengen orang muda punya pilihan, punya suara.”
Mimpi Agni untuk Masa Depan
Kini, Agni bercita-cita menjadi fasilitator perubahan kebijakan dan pembangunan yang lebih inklusif.
“Lima tahun ke depan, aku pengen tetap fasilitasi ruang belajar buat orang muda. Aku pengen Indramayu punya kebijakan yang benar-benar ramah anak dan remaja. Bukan cuma label, tapi praktik nyata.”

Dari sebuah desa di Indramayu, Agni membuktikan bahwa ketika perempuan muda diberi ruang, kepercayaan, dan dukungan, mereka mampu memimpin perubahan. Perjalanan Agni bersama Selendang Puan, SAPA Institute, YGSI, dan program RHRN2 menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana, yakni keberanian untuk bermimpi dan bertindak. (*)







