Saat Orang Muda Bersuara: Norma Lama Mulai Ditantang

Bagikan Artikel ini

Lima orang muda, laki-laki, yang akrab dengan Program Power To You(th) sedang menggambarkan ide mereka dalam kertas menggunakan krayon dan spidol warna-warni, mereka duduk bersila di tengah luasnya taman berumput hijau yang begitu asri dengan latar pohon yang rimbun.

Dulu aku pikir membicarakan HKSR itu tabu. Sekarang aku ingin memastikan teman-temanku mendapatkan informasi yang benar dan perlindungan yang layak. Kalo bukan kita yang bersuara, siapa lagi? Qomar, anggota CIKAL, Langkat, Sumatera Utara. 

 

Dengan dukungan program PtY dan RHRN2, kami menempatkan orang muda sebagai pusat dari perubahan sosial. Di berbagai wilayah, kami mengawal ruang-ruang orang muda, seperti CIKAL di Langkat; Forum Anak Desa (FAD) di Lombok, Jember, dan Bondowoso; Forum Komunikasi Remaja Desa (FKRD) di Garut; serta kader muda Pusat Layanan Komunitas (PLK) di Indramayu.

Tiga orang remaja perempuan, mempresentasikan hasil diskusi mereka yang urai dalam kertas plano yang menjulur ke lantau. Mereka berkumpul di siang hari untuk berdiskusi. di depan mereka ada sekitar tujuh orang remaja lainnya yang sedang duduk bersila, menyimak paparan ide-ide mereka.

Mereka kini aktif di lingkungannya dalam mempromosikan HKSR, pencegahan KBGS, Posyandu Remaja (Posrem), hingga menjadi penghubung antara remaja dan tokoh masyarakat. “Dulu aku pikir membicarakan HKSR itu tabu. Sekarang aku ingin memastikan teman-temanku mendapatkan informasi yang benar dan perlindungan yang layak. Kalo bukan kita yang bersuara, siapa lagi?” – Qomar, anggota CIKAL, Langkat, Sumatera Utara. 

Mereka juga seringkali dilibatkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), termasuk untuk mengelola dana desa untuk kegiatan-kegiatan mereka.  “Kalau anak muda diberi ruang dan anggaran, mereka bisa menunjukkan perubahan nyata,” Suwanto, Kepala Desa Tugu, Langkat, Sumatera Utara.

Seorang remaja perempuan berkerdung hitam, sedang menulis di dalam kelas, terlihat sejumlah remaja perempuan berkerudung. juga sibuk tertunduk mencatat dengan pulpen.

Di lingkungan sekolah, kami juga mendorong pembentukan Peer Educator (PE) melalui Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS). Keberadaan PE tidak hanya menciptakan ekosistem sekolah yang lebih terbuka dan inklusif, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri siswa serta keberanian mereka untuk melaporkan kasus-kasus bullying dan kekerasan lainnya di sekolah.

“Aku tadinya pemalu banget, nggak pernah ngomong keras. Tapi karena PKRS, aku jadi ngerti tubuhku, ngerti emosiku, dan mulai percaya diri. Sekarang aku bisa berdiri di depan teman-teman dan ngomong.” Maulidha, siswa SMPN 1 Sindang, Indramayu, Jawa Barat. 

enam orang anak laki-laki duduk melingkar di bangku sekolah, menggunakan seragam batik dan memakai peci di kepalanya, sambil menunjuk buku bergambar organ kesehatan reproduksi laki-laki.

Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.