Bagikan Artikel ini
SobatASK - Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Kamu Gak Sendirian!

Bentuk-bentuk Ketidakadilan dan Diskriminasi Gender

Ilustrasi laki-laki yang memakai topeng untuk menutupi kesedihannya

 

Pernah nggak kamu merasa atau melihat situasi di mana perempuan harus nurut sama laki-laki dalam keputusan keluarga, dianggap kurang pintar dalam pelajaran tertentu, nggak dikasih izin sekolah atau kerja, atau malah tetap harus masak dan beres-beres walau sama-sama capek pulang kerja?

Atau sebaliknya, laki-laki diledek kalau nangis, dianggap lemah kalau nggak “keras”, dan selalu dituntut jadi pemimpin?

Semua contoh ini adalah bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender, yaitu ketika peran, kesempatan, dan nilai seseorang ditentukan hanya berdasarkan jenis kelamin seseorang.

Subordinasi

Ilsutrasi perempuan berpenampilan maskulin menyapa kedua sahabat laki-lakinya

Subordinasi kondisi adalah di mana seseorang dianggap “lebih rendah” dan hanya dianggap penting kalau dia “ngikut” orang lain yang dianggap lebih dominan dan punya kuasa. Dalam konteks gender, sering banget terjadi pada perempuan.

Misalnya gini:
Di sekolah,  cewek yang stylenya maskulin suka pakai hoodie, sneakers, nongkrong sama cowok-cowok dianggap “keren” dan nggak diremehkan. Tapi giliran ada cewek yang tampil feminin, malah dianggap menye-menye, nggak kuat, nggak bisa apa-apa. Padahal, kedua style itu cuma beda cara ekspresinya aja. Ini bentuk subordinasi juga karena yang diangkat dan dihargai cuma perempuan yang “mendekati standar laki-laki”, sementara perempuan yang tampil sesuai karakternya sendiri malah dianggap lebih rendah. 

Contoh lainnya, di rumah, ayah sering kali ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan. Mulai dari soal keuangan, pendidikan anak, sampai urusan rumah tangga harus ditentukan oleh ayah. Ibu cuma dianggap “pendukung” atau “pelaksana”, bukan pengambil keputusan. Padahal, ibu juga punya pandangan, pengalaman, dan pengetahuan yang penting banget. Tapi karena ada budaya yang menempatkan perempuan “di bawah” laki-laki, suara ibu sering kali nggak didengar, bahkan dalam hal-hal yang sebenarnya sangat dia kuasai.

Marginalisasi

Ilustrasi Ibu yang kelelahan mengurus urusan domestik

Marginalisasi artinya peminggiran. Biasanya berkaitan sama hal-hal ekonomi, misalnya, seseorang dijauhkan dari akses ke pekerjaan, penghasilan, atau bahkan pendidikan. Dan sayangnya, perempuan sering banget jadi korban dari marginalisasi.

Contohnya:
Contoh marginalisasi bisa kamu lihat ketika perempuan dilarang bekerja dan dipaksa untuk mengurus rumah, bukan karena itu pilihan yang dia mau, tapi karena niatan supaya perempuan tetap tergantung secara ekonomi sama laki-laki. Jadi, dia nggak punya akses ke penghasilan sendiri, nggak punya kontrol atas uang, dan akhirnya sulit mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Ini beda banget, ya, konteksnya dari perempuan yang memilih dengan sadar untuk menjadi ibu rumah tangga atau perempuan yang ingin terus berkarir karena keduanya merasa bahagia dengan jalan yang diambil. Dalam hubungan yang setara, laki-laki dan perempuan bisa sama-sama bersepakat tentang peran-peran yang ingin mereka ambil sesuai dengan kapasitas, kebutuhan, dan pastinya, kebahagiaan bersama.

Stereotip Gender

Ilustrasi bias gender dalam memilih pemimpin, anak laki-laki digambarkan lebih unggul.

Stereotip adalah memberikan label yang cenderung negatif ke seseorang atau kelompok, biasanya berdasarkan jenis kelamin. Label ini muncul karena ada ketimpangan kekuasaan, sobatASK. Stereotip gender akhirnya banyak diinternalisasi, terus diulang, dan disebarin, sampai banyak orang percaya seolah itu benar. Dan parahnya, stereotip sering dipakai buat ngebenarin perlakuan yang nggak adil, kayak meremehkan perempuan atau menutup akses mereka ke posisi penting

Contohnya gini:
Di organisasi sekolah, waktu pemilihan ketua OSIS, cewek yang mencalonkan diri sering diragukan kemampuannya, dibilang “cewek mah gampang baper” atau “mending cowok aja, lebih tegas”. Padahal belum tentu! semua orang punya kemampuan berbeda-beda, dan kemampuan memimpin nggak ditentukan sama jenis kelamin.

Stereotip yang mengakar di masyarakat sangat berbahaya karena seakan membenarkan perilaku meremehkan orang lain berdasarkan gender dan bisa bikin orang yang kena label jadi ragu sama dirinya sendiri. Akhirnya, banyak perempuan yang nggak berani ambil peluang, bukan karena nggak bisa, tapi karena dari awal udah dikasih label yang menahan mereka.

Ilustrasi Ibu kelelahan menanggu beban ganda antara urusan domestik dan mencari nafkah

Beban Ganda

Beban ganda terjadi ketika seseorang harus menanggung dua jenis pekerjaan sekaligus, misalnya, bekerja di ranah publik (misalnya jadi guru, karyawan, pedagang, dll) dan di saat bersamaan tetap bertanggung jawab sendirian, atas pekerjaan domestik di rumah, seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga merawat anggota keluarga. Sedihnya, ini sering dianggap wajar, padahal membuat perempuan kelelahan secara fisik maupun mental.

Pada masyarakat patriakal, ekspektasi ini hanya dibebankan pada perempuan. Sementara laki-laki, setelah pulang kerja, tidak diharapkan atau diwajibkan untuk ikut terlibat dalam urusan rumah tangga. Kalaupun ada laki-laki yang terlibat, sering disebut “membantu”, bukan dianggap sebagai tanggung jawab yang setara. Hal ini mencerminkan norma gender yang tidak adil dalam membagi peran di rumah.

Dalam relasi yang setara, seharusnya pekerjaan rumah tangga tidak otomatis menjadi beban salah satu pihak. Pembagian tanggung jawab, baik pekerjaan rumah maupun pekerjaan di luar rumah, bisa didiskusikan dan disepakati bersama berdasarkan kemampuan, kesediaan, dan kondisi masing-masing, bukan berdasarkan stereotip atau tuntutan dari masyarakat terhadap jenis kelamin tertentu.

Gimana, sepakat?

***

Penulis: Hana Nada

Desainer: Nurul Maulida

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Artikel SobatASK Lainnya

Jelajahi berbagai informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi remaja dari sumber yang terpercaya.

Kamu Gak Sendirian!
Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.