
Pernah nggak sih kamu nonton film atau iklan, terus keliatannya kamera senang banget “berlama-lama” menyorot bagian tubuh perempuan. Contohnya nih, mereka yang dianggap berpenampilan menarik sesuai standar kecantikan dimunculkan dalam film atau iklan meski nggak beradegan penting di video itu.
Pernah juga gak terpikir, kenapa ya perempuan divideo klip musik sering muncul dengan pakaian super minim, joget sensual, sementara yang laki-laki tampil, penampilan seakan nggak jadi hal utama?
Nah, itu semua bisa jadi karena kamu lagi melihat efek dari male gaze.
Asal-usul Male Gaze

Konsep male gaze pertama kali dikenalkan oleh Laura Mulvey, seorang teoritikus film feminis pada tahun 1975. Dalam tulisannya, Visual Pleasure and Narrative Cinema, Mulvey menjelaskan bahwa banyak film Hollywood menempatkan penonton pada posisi laki-laki heteroseksual yang menjadikan karakter perempuan hanya sebagai objek visual untuk dinikmati, bukan sebagai subjek yang aktif, berpikir, dan punya peran utuh.

Coba ingat karakter perempuan dalam film action yang kerap muncul sebagai “gadis cantik” tanpa pendalaman karakter. Mereka biasanya didandani dengan gaun minim dan sepatu hak tinggi semata untuk menciptakan daya tarik visual bagi penonton laki-laki.
Contoh lain, iklan parfum dari merek-merek Eropa di era 90-an. Brand memang ingin menampilkan kesan mewah dan elegan pada produknya. Namun, alih-alih menonjolkan produk, elegansi yang ingin ditonjolkan malah tubuh perempuan yang dibingkai secara sensual dengan pakaian minim dan pose yang dianggap ‘menarik’ perhatian laki-laki.
Dalam video klip musik pop, misalnya, bagaimana kamera menyorot tubuh perempuan, cara mereka berpakaian, berhias dan bagaimana mereka bergerak, semuanya disesuaikan dengan apa yang dianggap menarik oleh laki-laki.
Di sinilah kita bisa melihat bagaimana male gaze bekerja melalui media, SobatASK. Tubuh perempuan dijadikan simbol keindahan, tapi dilihat dan dikemas dari sudut pandang laki-laki.
Nah, singkatnya, male gaze itu adalah cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai objek visual untuk dinikmati, terutama oleh laki-laki.
Male gaze membentuk cara perempuan melihat dirinya sendiri, menilai tubuhnya, dan mengekspresikan seksualitasnya. Maka, melawan male gaze bukan berarti berhenti berdandan atau tampil cute, tapi bagaimana kita (perempuan) memiliki kendali dan kesadaran atas tubuh dan cara kita menampilkannya.
Male Gaze di Media Sosial

Seiring berkembangnya teknologi, media tempat kita mengonsumsi konten pun ikut berubah. Jika dulu male gaze hadir lewat film, TV, dan iklan, kini kita menjumpainya setiap hari lewat media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Algoritma platform seperti Instagram dan TikTok, misalnya, cenderung mengangkat konten yang memenuhi standar kecantikan tertentu kayak kulit mulus, tubuh langsing, wajah simetris. Akibatnya, meskipun banyak perempuan merasa berdandan untuk diri sendiri, tetap ada dorongan untuk menyesuaikan diri dengan estetika yang “ramah algoritma”. Pose, pencahayaan, outfit, hingga penggunaan filter “terpaksa” menyesuaikan dengan apa yang terbukti bekerja di platform, jadi bukan ekspresi diri yang jujur deh.
Dari sini kita tau kalau male gaze terjadi lewat sistem yang terus mereproduksi dan mengutamakan tampilan perempuan yang sesuai dengan selera visual dominan.
Apakah Perempuan Nggak Boleh Tampil Menarik?

Boleh dong! Tapi penting untuk kita pikirkan lagi, kira-kira tampil menarik menurut siapa? Apakah buat diri kamu sendiri atau memenuhi standar eksternal? Beda lho antara ekspresi diri yang otentik dan penampilan yang dibuat supaya dapat validasi orang lain.
Intinya adalah kamu harus punya kuasa atas tubuhmu sendiri. Apakah kamu ingin memakai pakaian minim atau super tertutup, semua itu harus berdasarkan pilihanmu dan nilai yang kamu anut, bukan berdasarkan tuntutan atau keinginan laki-laki.
***
Penulis: Hana Nada
Desainer: Nurul Maulida






