Bagikan Artikel ini
SobatASK - Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Kamu Gak Sendirian!

Fenomena Risk-Taking Behaviour pada Remaja

Masa remaja adalah saat di mana kamu mulai mengembangkan identitas mereka dan mengalami perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Nah, ada salah satu fenomena perilaku spesifik yang terjadi pada remaja, SobatASK! Pernahkah kamu mendengar istilah risk-taking behaviour? Yuk, kita bahas!

American Psychological Association (APA) menemukan bahwa remaja cenderung ingin melakukan tindakan-tindakan berisiko atau biasa dikenal dengan istilah risk-taking behaviour. Ada beberapa alasan yang mendorong remaja melakukan tindakan-tindakan berisiko seperti ingin meniru orang dewasa, rasa ingin tahu dan mencoba-coba yang tinggi, atau bahkan motivasi ingin terlihat keren karena peer pressure (tekanan sebaya) dari lingkungan. Sayangnya, ketidaktahuan remaja tentang perilaku berisiko dapat mengarah pada konsekuensi yang serius loh.

Jadi, apa saja sih perilaku pengambilan resiko itu? Mari kita simak.

Self-harm adalah kegiatan berbahaya yang dilakukan oleh diri sendiri dengan tujuan untuk menyakiti, bisa termasuk melukai atau memukul diri sendiri, berhenti makan, dan tindakan lain yang berpotensi membahayakan.  Self-harm bisa terjadi karena remaja merasa stres, tekanan, atau perasaan tidak bahagia. Perilaku berisiko ini dianggap sebagai cara untuk mengatasi emosi mereka. Jadi, apabila ada temanmu yang melakukan self-harm jangan dihujat, tandanya ia sedang memerlukan bantuan psikologis, yah!

Merokok adalah salah satu bentuk perilaku  berisiko yang sering ditemui pada remaja. Dorongan untuk merokok bisa terjadi karena keinginan untuk mencoba dan meniru hal yang dilakukan orang dewasa atau peer pressure lingkungan pertemanan yang juga berperilaku serupa. Padahal, risiko merokok pada usia remaja berakibat pada masalah kesehatan serius. Potensi lain yang muncul dari perilaku ini adalah pola ketergantungan yang membawa dampak jangka panjang.

Penyalahgunaan narkoba adalah salah satu bentuk perilaku berisiko yang dapat memiliki dampak yang sangat merusak pada masa remaja. Remaja yang terlibat dalam penyalahgunaan narkotika berisiko mengalami gangguan mental, masalah kesehatan fisik, dan bahkan ketergantungan. Biasanya mulai dari coba-coba ikutan teman supaya keliatan keren, eh malah keterusan. Selain itu, perilaku ini juga melanggar hukum.

Dorongan seksual adalah hal yang alami dimiliki masing-masing individu. Akan tetapi, ketika remaja yang tidak memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan aktivitas seksual, mereka berpotensi melakukan perilaku seksual berisiko. Tentunya, hal ini dapat mengarah pada penularan penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. Maka dari itu, SobatASK, pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) sangat penting untuk membantu remaja membuat keputusan yang bijaksana dalam kehidupan seksual mereka.

Perilaku anti-sosial pada remaja ditandai dengan sikap menarik diri dari lingkungan sekitar. Remaja yang berperilaku anti-sosial biasanya kehilangan minat untuk berelasi dan berinteraksi dengan orang lain. Pada beberapa kasus, perilaku anti-sosial bisa berkembang menjadi perilaku lain yang berhubungan dengan kekerasan.

Risk-taking behavior pada remaja adalah fenomena yang kompleks, yah, SobatASK. Masa remaja memang lagi seru-serunya nyari tau banyak hal. Jadi, memiliki pemahaman yang baik, diharapkan kamu bisa bijak dalam mengambil keputusan hidup dan terhindar dari risk-taking behaviour. Selain itu, jika ada teman yang melakukan perilaku tersebut, kita rangkul ya!

 

***

 

Penulis: Hana Nada

Desainer: Nurul Maulida

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.