SobatASK, kamu pernah nggak sih denger orang ngomongin soal kesehatan reproduksi dan seksualitas, tapi nadanya kayak malu-malu, atau bercanda, atau malah jadi bahan ledek-ledekan?
Atau, jangan-jangan kamu sendiri juga pernah ngerasa kikuk kalau denger kata “vagina” atau penis” didiskusikan di depan khalayak ramai?

Di banyak kultur, pembicaraan soal seksualitas masih sering dianggap tabu atau cuma pantas buat orang dewasa yang sudah menikah. Nah, karena nggak terpapar pengetahuan soal Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, akhirnya banyak masyarakat yang pakai istilah nyeleneh atau pakai kata yang dianggap “lebih halus” pas ngebahas seksualitas.
Padahal, seksualitas itu adalah sesuatu yang memang melekat dalam diri manusia sehingga perlu dibahas dengan penuh penghormatan dan tanggung jawab. Bahasa yang kita gunakan bukan cuma soal pilihan kata, tapi juga soal bagaimana kita memandang diri sendiri dan orang lain. Ketika bahas seksualitas dengan gestur malu-malu, kita jelas memperkuat stigma kalau reproduksi dan seksualitas itu tabu. Faktanya, kita berhak tau seluk-beluk tubuh kita, bagaimana merawat, melindungi, dan memberi penghormatan kepadanya.

Jadi, Gimana Caranya Ngomongin Seksualitas Secara Sehat?
Setelah tahu bahwa bahasa bisa membentuk cara kita memandang seksualitas, sekarang saatnya kita mulai membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik. Artinya nggak bercandain topik seksualitas, tapi juga menyampaikan informasi dengan akurat dan penuh rasa hormat, baik itu terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Pakai istilah yang benar dan jelas
Daripada pakai istilah yang disamarkan atau dilucu-lucukan, lebih baik pakai kata ilmiah. Misalnya, vagina, penis, vulva, menstruasi, ejakulasi. 
Gimana, kamu ngerasa canggung nggak, bacanya? Inget ya, ini kan soal tubuh dan kesehatan, jadi kenapa harus disembunyikan? SobatASK, dengan membiasakan menggunakan nama organ tubuh yang semestinya, artinya kita juga turut mendobrak anggapan bahwa seksualitas itu sesuatu yang tabu.
Hindari bahasa yang merendahkan atau meledek
Bahasan seksualitas sering kali dieratkan dengan hubungan seksual. Padahal seksualitas itu menyangkut hal-hal yang sangat personal, misalnya, tubuh, perasaan, relasi, bahkan pengalaman hidup. Jadi, yuk, jangan salah kaprah lagi.
Yang paling penting nih, berhenti menjadikan seksualitas sebagai lelucon, apalagi saat lagi ngobrolin topik yang nggak ada hubungannya sama seksualitas.
Bangun diskusi yang aman
Kalau teman kamu tanya sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas, jangan langsung nge-judge atau malah menjauh. Kasih respon-respon yang netral dan suportif. Kalau kamu ngerti topiknya, kamu bisa lanjutkan diskusi terbuka dengan temanmu. Kalau kamu nggak ngerti kamu bisa ajak temanmu untuk cari tahu bareng-bareng lewat referensi yang terpercaya. Kalau teman kamu cerita soal pengalaman pribadi atau nanya hal-hal sensitif, coba latih diri untuk dengar dulu tanpa buru-buru menghakimi, menasihati, atau membandingkan. Attitude positif seperti inilah yang bikin obrolan jadi terasa aman.
Nah, itu dia sobatASK.
Untuk punya perspektif yang baik soal seksualitas, kita semua perlu belajar soal Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Dengan memahami hak-hak ini, kita bisa tahu bagaimana menyampaikan informasi dengan cara yang ilmiah dan menghormati martabat diri sendiri maupun orang lain. Jadi, yuk break the taboo!
***
Penulis: Hana Nada
Desainer: Nurul Maulida





