Bagikan Artikel ini
SobatASK - Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Kamu Gak Sendirian!

Informed Consent: Aku Setuju dan Mengerti Penuh!

Ilustrasi seorang anak perempuan sedang berada di ruangan dokter untuk berkonsultasi

Bayangkan seorang remaja perempuan bernama Disa sedang duduk di ruang praktik dokter ditemani ibunya. Dokter menjelaskan bahwa Disa perlu menjalani pemeriksaan kesehatan reproduksi karena keluhan nyeri saat menstruasi. Namun, Disa terlihat kebingungan, Ia belum memahami apa yang dijelaskan oleh dokter.

Semua keputusan dibicarakan antara ibunya dengan dokter, tanpa ada pertanyaan, “Disa, apakah kamu setuju?” atau “Apa kamu sudah mengerti prosedur kesehatan yang akan dilakukan?” Padahal, Disa adalah orang yang akan menjalani prosedur kesehatan yang disarankan oleh dokter.

Nah, inilah mengapa informed consent sangat penting. Informed consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar dan sukarela oleh seseorang, setelah ia memahami secara utuh mengenai tindakan, risiko, manfaat, serta alternatif yang mungkin ada. 

Apa sih perbedaan consent dan informed consent?

Ilustrasi dokter menjelaskan perbedaan consent dan informed consent

SobatASK, Istilah consent atau persetujuan sebenarnya bersifat umum dan bisa muncul dalam banyak situasi sehari-hari. Seorang anak bisa memberi consent saat guru ingin memeriksa suhu badannya saat demam misalnya, ketika guru harus menyentuh bagian tubuh sang anak. Sebaliknya, contoh tidak memberikan consent,  saat bermain dengan teman, kamu tidak suka apabila ada teman yang “iseng” memainkan rambutmu.

Dalam konteks ini, consent lebih merupakan persetujuan sosial atau interpersonal yang tidak selalu terikat oleh hukum. Artinya, bentuk persetujuan ini diberikan secara sukarela, tetapi tidak memerlukan prosedur formal atau perlindungan hukum tertentu.

Namun, ketika consent diberikan dalam situasi yang melibatkan risiko terhadap hak, keselamatan, atau integritas seseorang, seperti dalam pelayanan kesehatan, penelitian, atau pengambilan data pribadi maka consent harus diberikan dalam bentuk informed consent. Inilah yang membedakan keduanya secara mendasar

Ilustrasi seorang anak perempuan menjelaskan makna informed consent

Jadi jelas yah sobatASK, informed consent itu bersifat prosedural, artinya harus melalui tahapan penjelasan, pemahaman, dan persetujuan secara sadar, dan ada pembubuhan tandatangan bukan hanya ucapan “setuju”.

Sebagai contoh nih SobatASK, jika seorang remaja diminta ikut serta dalam pemeriksaan kesehatan reproduksi di sekolah, maka tidak cukup sekadar bertanya “kita periksa, ya?” dan menerima jawaban “Iya”. Harus ada penjelasan tentang apa yang akan diperiksa, siapa yang akan melakukan, apakah datanya akan dicatat, dan apakah ada dampak dari hasilnya. Barulah kemudian harus meminta persetujuan yang sah. 

Dalam konteks anak dan remaja, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan seksual, atau partisipasi dalam penelitian, informed consent harus melibatkan penjelasan yang jelas dan sesuai usia, serta menghargai hak anak untuk memahami dan mengambil keputusan. Tujuannya untuk melindungi hak dan martabat individu, termasuk anak-anak. Tanpa informed consent, persetujuan bisa dianggap cacat secara hukum dan berisiko melanggar hak anak.

Ilsutasi anak perempuan tidak memberikan consent ketika berinteraksi dengan teman laki-laki

Nah itu dia sobatASK, selanjutnya kamu bisa berlatih membaca keadaan yang membutuhkan consent atau informed consent!

***

Penulis: Hana Nada

Desainer: Nurul Maulida

Ingin Mendapatkan Kabar Terbaru dari Kami?

Berlangganan Nawala Yayasan Gemilang Sehat Indonesia

Artikel SobatASK Lainnya

Jelajahi berbagai informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi remaja dari sumber yang terpercaya.

Kamu Gak Sendirian!
Logo Yayasan Gemilang Sehat Indonesia - Full White

Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) merupakan lembaga non-profit atau NGO yang bekerja di Indonesia sejak 1997 untuk isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), serta pencegahan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Kami percaya bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi manusia harus dilihat secara positif tanpa menghakimi dan bebas dari kekerasan.