SobatASK, pada artikel sebelumnya, kita sudah sering membahas tentang Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (PKRS).

Namun, pernahkah terpikir olehmu, gimana dengan anak-anak dengan disabilitas? Apakah mereka juga dapat informasi yang memadai? Apakah mereka juga berani bilang “nggak” saat ada orang yang melewati batas?

Anak dengan disabilitas juga punya Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) serta memahami bentuk-bentuk Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Sayangnya, mereka sering kali diabaikan karena keterbatasan fisik, sensorik, atau motorik yang mereka miliki. Selain itu, banyak orang yang tidak menggunakan kacamata kesetaraan dalam memandang orang dengan disabilitas dan justru melihat sebagai objek yang perlu “dikasihani”.
Karena itu, tanpa sadar, banyak orang yang memandang orang dengan disabilitas sebagai aseksual, yang artinya tidak memiliki pandangan, perasaan, maupun pikiran seksualitas sebagaimana manusia lain yang tidak mengalami disabilitas.

Padahal, karena sering diabaikan, orang dengan disabilitas jadi lebih rentan terhadap kekerasan, perundungan, atau manipulasi. Tentunya situasi ini akan jadi semakin buruk jika anak dengan disabilitas nggak dapet pendidikan kesehatan reproduksi.
Contohnya nih, ada seorang anak perempuan dengan disabilitas pendengaran yang nggak pernah diajarin soal pubertas, consent, dan melindungi diri dari kekerasan seksual. Waktu tubuhnya mulai berubah, dia bingung dan nggak ngerti apa yang terjadi. Lebih buruk lagi, kalau Ia mengalami pelecehan seksual dari anggota keluarganya sendiri, dia bisa jadi nggak tahu harus ngapain atau ke siapa harus cerita. Tentu peristiwa ini sangat memprihatinkan.

Salah satu tantangan paling besar dalam ngasih pendidikan kesehatan reproduksi ke anak dengan disabilitas adalah soal komunikasi. Banyak ragam disabilitas, banyak pula metode yang perlu dirumuskan untuk menyampaikan materi kesehatan reproduksi. Misalnya, anak dengan disabilitas pendengaran butuh bahasa isyarat, sementara anak dengan disabilitas intelektual butuh penjelasan yang lebih sederhana dan visual yang jelas. Contoh lain nih, anak dengan disabilitas penglihatan, mereka membutuhkan butuh materi dengan format audio, huruf braille, atau deskripsi verbal yang jelas.

Tentunya, untuk mewujudkan PKRS yang ramah anak dengan disabilitas membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Misalnya nih SobatASK, orang tua bisa mulai terbuka menjadi pintu pertama tempat anak bertanya. Kemudian, guru jadi penyampai informasi yang saintifik. Lebih jauh lagi, institusi pendidikan bisa memberikan dukungan dengan pengintegrasian PKRS ke dalam bahan ajar di sekolah. Nah, kamu juga bisa ambil langkah nih, misalnya dengan mengajak teman lain untuk memandang orang dengan disabilitas berlandaskan kesetaraan. Kamu juga bisa ambil inisiatif jika misalnya ada materi PKRS yang dibahas bareng di kelas, kamu bisa bantu ulangin penjelasannya dengan cara yang lebih mudah dimengerti, atau bantuin baca materi bareng.
SobatASK, PKRS untuk anak dengan disabilitas adalah bentuk keadilan sosial dan pengakuan bahwa setiap anak, tanpa kecuali, berhak merasa paham, dan berhak merasa aman dalam kehidupan sosialnya. Dalam upaya mewujudkan dunia yang setara, Yuk, jadi bagian dari gerakan yang memastikan nggak ada satu pun anak yang tertinggal dalam hal pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual, yah!
***
Penulis: Hana Nada
Desainer: Nurul Mauilda






