SobatASK, di era ini, masyarakat kita mulai tersadar atas pentingnya perlindungan bagi korban kekerasan seksual. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan menghentikan victim blaming.
Nah, apa sih arti victim blaming?
Yuk, simak artikel berikut!
Kekerasan seksual adalah kejahatan yang berdampak besar pada korban mulai dari pola pikir, perilaku, psikologis, fisik, hingga rasa trauma mendalam. Salah satu masalah yang sering muncul secara sosial ketika membahas kasus kekerasan seksual adalah victim blaming atau menyalahkan korban. Victim blaming adalah tindakan menyudutkan korban daripada menyalahkan tindakan pelaku. Oleh karena itu, sikap ini perlu kita hindari, yah, dalam rangka menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap korban.

Apa saja sih tindakan yang termasuk victim blaming?

Salah satu bentuk victim blaming yang sering muncul adalah pertanyaan tentang apa yang korban kenakan saat kekerasan seksual terjadi. Pemikiran ini keliru yah, SobatASK. Penampilan atau pakaian seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan seksual. Setiap individu berhak untuk berpakaian sesuai dengan keinginannya tanpa takut menjadi korban kekerasan. Taukah kamu? Mengajukan pertanyaan semacam ini nggak adil karena kita jadi nggak fokus ke kejahatan pelaku.
Kita harus ingat bahwa kekerasan seksual terjadi karena pelaku memilih untuk melakukan tindakan tersebut, bukan karena korban. Korban tidak memiliki tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan oleh orang lain terhadap mereka. Penting banget mengganti mindset seperti ini, SobatASK.

SobatASK, ada anggapan bahwa jika seseorang pulang malam, maka mereka sendiri yang mengundang bahaya dan pantas menjadi korban kekerasan. Ini adalah pandangan yang sangat salah dan berbahaya, yah. Banyak orang yang pulang malam karena tuntutan pekerjaan. Sekalipun untuk bersenang-senang, bukan berarti mereka berhak menjadi sasaran kekerasan. Memiliki waktu malam yang aman adalah hak setiap individu. Tugas kita bersama adalah menciptakan lingkungan yang aman di mana orang dapat beraktivitas tanpa takut menjadi korban kekerasan.

Saat dalam situasi yang mencekam, orang seringkali bereaksi dengan berbeda. Tidak semua korban akan bisa berteriak atau melawan pelaku. Ada yang mungkin terlalu ketakutan atau terkejut sehingga sulit untuk melawan. Ini adalah respon psikologis karena perasaan takut dan terancam di tengah situasi yang traumatis. Sangat tidak adil kalau menyalahkan korban karena tidak bisa berteriak adalah. Kita harus berempati pada kondisi fisik dan mental korban.

Mengkritik korban karena pergi sendirian adalah bentuk victim blaming yang tidak memiliki dasar. Seringkali, kita harus melakukan perjalanan atau beraktivitas sendirian, dan ini adalah hal yang wajar. Kita harus mengingat bahwa pelaku kekerasan seksual yang melakukan tindakan yang salah, bukan korban. Meski sendiri, setiap individu berhak berada di ruang publik dengan perasaan aman.

Menuduh korban kurang waspada adalah tindakan yang tak berempati kepada korban. Waspada adalah hal yang baik, tetapi kekerasan seksual tidak boleh terjadi atas alasan apapun. Menyalahkan korban karena kurang waspada adalah mengecilkan seriusnya tindakan kekerasan dan menambah luka bagi korban.
SobatASK, kita harus selalu ingat bahwa tidak ada satu pun orang yang pantas menjadi korban kekerasan seksual. Mengakhiri victim blaming adalah tanggung jawab bersama. Sebagai remaja, kamu juga bisa ikut andil menjadi bagian masyarakat peduli dan berempati pada korban, serta sadar dan teredukasi dengan baik atas isu-isu kekerasan berbasis gender dan seksual.
***
Penulis: Hana Nada
Desainer: Nurul Maulida



